bootstrap themes

Testimony:
Fully Surrender to God
under Quarantine Order

Mobirise


Halo semuanya, perkenalkan saya HT (married couple), jemaat GKY Singapura. Saya sudah bekerja di Singapura selama 16 tahun.

1 tahun yang lalu, kira-kira di bulan Maret 2020 saya dan istri menjalani QO (Quarantine Order)/isolasi karena diidentifikasi sebagai close contact dari salah satu rekan kami yang adalah confirmed case Covid-19.

Kisah ini dimulai ketika istri saya mendapatkan telepon dari MOH (Ministry of Health) Singapura. Istri saya dinyatakan sebagai salah satu close contact dari seorang confirmed case. Karena istri saya sebelumnya ada mild flu tetapi sudah sembuh beberapa hari yang lalu, mereka menginfokan akan mengirimkan ambulans untuk menjemput istri saya dan dibawa ke NCID (National Centre for Infectious Diseases) untuk melakukan swab test. Saya dan istri kebetulan sedang ada di jalan pada saat menerima telepon tersebut. Kami sangat kaget dan bingung serta khawatir jika mereka tiba di rumah kami, karena hanya ada 2 anak kami yang juga pasti takut dan bingung.

Di sepanjang perjalanan, kami dengan rasa takut sambil berdoa di dalam hati. Kami memutuskan untuk menelepon bapak gembala kami dan beliau juga mendoakan untuk menguatkan kami.

Setibanya di rumah, beberapa menit kemudian ambulans tiba beserta petugas yang lengkap dengan pakaian astronot 😊 membawa ranjang untuk pasien. Mereka menyuruh istri saya untuk tidur di ranjang tersebut seperti layaknya orang sakit. Kami sempat diskusi untuk tidak perlu karena istri saya sehat-sehat saja dan aneh juga harus tidur di ranjang pasien. Tetapi mereka menolak karena harus mengikuti prosedur yang ada.

Saya bisa melihat muka istri yang begitu pucat dan ketakutan karena dia belum pernah mengalami hal tersebut sebelumnya, serta ada tetangga juga yang melihat kami seperti divonis confirmed case 😊.

Setibanya di NCID, istri saya dengan perasaan khawatir harus menjalani X-Ray dan swab test. Dia harus menunggu ambulans lagi untuk membawa pulang ke rumah. Pada saat swab test, hidung istri saya berdarah dan harus diulang beberapa kali. Proses yang tidak mudah dilewati, karena hidung istri saya sangat sensitif. 

Akhirnya proses di NCID selesai dan ambulans kembali membawa istri saya pulang. Tiba di rumah sekitar midnight, kami dikawal dengan petugas untuk menjelaskan prosedur QO.

Istri saya harus menjalani QO di rumah selama kurang lebih 14 hari, tidak boleh keluar dari kamar sambil menunggu hasil swab test yang katanya kurang lebih 2 hari. Setelah lewat dari 2 hari, istri saya tidak mendapatkan kabar mengenai hasil tesnya sebagaimana orang lain akan menerima kabar kalo negatif atau sebaliknya jika positif akan dijemput kembali ke NCID.

Setelah berjalan 1 minggu, saya mendapatkan flu dan juga severe headache dan pergi ke klinik. Setibanya di klinik, saya diperiksa oleh dokter dan saya beritahu kalau ada istri saya dirumah yang sedang menjalani QO. Mereka menelepon ambulans untuk menjemput saya agar dibawa ke NCID untuk melakukan swab test.

Pada awal COVID-19 di Singapura pada bulan Maret 2020, semua treatment harus dilakukan di NCID. Jadi saya harus mengulangi proses yang sama dijalankan istri saya. Begitu melelahkan dan saya harus lapor ke kantor mendapatkan QO dirumah selama 14 hari.  Kami berdua harus menjalankan QO dirumah dan tidak boleh keluar kamar karena mereka memonitor melalui telepon untuk mengambil video setiap saat. 

Kedua anak kami juga didatangi pihak sekolah untuk melakukan SHN (Stay Home Notice) karena orang tua mereka sedang dalam QO. Keadaan begitu menakutkan dan kami sempat terpikir bagaimana jika kami berdua benar-benar positif dan harus di bawa ke NCID serta treatment di sana. Bagaimana dengan kedua anak kami? Siapa yang akan menjaga mereka?  Walaupun kami berdua tidak bisa mengurusi mereka di rumah, tetapi minimal lebih baik karena bisa melihat mereka dari jauh jika pintu kamar dibuka dan kami masih bisa mendengar suara mereka. 

Di tengah situasi yang penuh dengan ketakutan dan letih, kami tidak bisa berbuat apa-apa selain menggunakan tangan dan lutut kami untuk berdoa dan berserah atas pimpinan-Nya. Kami menyerahkan semuanya ke Tuhan dan di dalam doa, kami hanya mengatakan kiranya Tuhan yang tahu dan memberikan kekuatan serta yang terbaik untuk keluarga kami melewati masa-masa karantina tersebut.

Puji Tuhan akhirnya kami berhasil melewati masa-masa karantina dengan lancar dan penuh kekuatan karena setiap hari mendapatkan anugerah-Nya. Anak-anak kami kembali ke sekolah dan kami bisa kembali beraktivitas secara normal tetapi harus pakai masker jika keluar rumah.

Setiap hari confirmed case Covid-19 semakin bertambah dan keadaan mulai mengkhawatirkan, sehingga akhirnya pemerintah Singapura mengeluarkan inisiatif circuit breaker/lockdown untuk membatasi orang keluar dari rumah kecuali untuk urusan-urusan yang esensial.

Sekarang sudah 1 tahun berlalu dan kami mulai terbiasa dengan “the new normal” di mana memakai masker sudah menjadi bagian kehidupan, tidak seperti awal-awal Covid-19 dimana memakai masker hanya bagi yang kurang sehat saja. Covid-19 membawa dampak yang sangat besar di dalam kehidupan kami dan semua orang, baik yang di Singapura maupun di seluruh dunia.

Kehidupan manusia yang awamnya berelasi antar sesama, dibatasi dan hubungan berubah menjadi “digital” alias online baik itu meeting, ibadah, dan bekerja. Puji Tuhan sekarang perlahan-lahan hubungan antar sesama yang dirusak oleh Covid-19 mulai kembali dipulihkan, seperti ibadah bisa kembali onsite walaupun dengan keterbatasan setiap orang menjaga jarak dan memakai masker.

Melalui kejadian ini kami diingatkan manusia terbatas dan powerless. Tidak mungkin bisa berkarya walaupun dengan skills yang dikembangkan melalui teknologi tanpa intervensi dari Tuhan. Dan semua hanya oleh karena Kasih Karunia dan Anugerah-Nya yang diberikan kepada kita sehingga kita bisa melakukannya dan berkarya di dalam dunia ini yang sifatnya sementara.

Tuhan bisa memakai siapa saja dan dalam bentuk apa saja untuk menyatakan rencana-Nya di dalam memulihkan hubungan manusia dengan Dia yang telah rusak oleh dosa. Di dalam setiap perkara, ada tangan Tuhan yang menopang dan Dia berjalan bersama dengan kita melewati setiap perkara yang ada karena dia Allah Imanuel.

Filipi 4:13
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

RECENT NEWS

Info Persembahan

CONTACT

SEKRETARIAT GKY SINGAPORE
Fortune Centre
190 Middle Rd #12-01A
Singapore 188979
(+65) 97610900
info@gkysingapore.org